Oleh: raymondsetiawan | September 2, 2009

Logotherapy: penemuan makna hidup

logotherapyLogotherapy merupakan suatu pendekatan psikologis yang dikembangkan oleh Viktor E. Frankl, seorang neurolog dan psikiater yang pernah mendekan di kamp konsentrasi pada masa Nazi di tahun 40-an dan kehilangan istri dan banyak anggota keluarganya yang mati di kamp konsentrasi tersebut. . ‘Logos’ sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘makna’. Baca Lanjutannya…

Oleh: raymondsetiawan | Juli 27, 2009

Mereka yang Jauh dari Hiruk-Pikuk Pendidikan Nasional

pedalamanSaat ini penulis sedang berada di Kabuten Sukamara, Kalimantan Tengah dan sedang melakukan analisis kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan di dua Kabupaten, Sukamara dan Kotawaringin Barat.

 Terlepas dari keinginan yang sungguh dari pemerintah daerah untuk memajukan dunia pendidikan dan cita-cita untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara nasional, penulis berusaha melakukan analis pribadi terhadap daerah yang dikunjugi, berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan sehubungan dengan tugas yang dilakukan sebagai staff dari Sampoerna Foundation Teacher Institute.

 Di satu sisi, berdasarkan bincang-bincang dengan Bupati dari kedua daerah tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa ada keinginan yang sungguh untuk memajukan daerah masing-masing, termasuk memajukan sektor pendidikan di kabupaten masing-masing. Namun di sisi lain, penulis juga menemukan bahwa tantangan yang dihadapi untuk benar-benar memajukan sektor pendidikan menyangkut banyak faktor yang bersifat multi-dimensi dan saling terkait. Yang penulis maksud di sini adalah sektor fasilitas umum publik, administrasi pemerintah, kesempatan yang diberikan kepada para guru serta faktor non-teknis yang menyangkut budaya yang terkait dengan kepercayaan masyarakat lokal yang pada akhirnya mempengaruhi keefektifan praktek pendidikan di daerah tersebut. Baca Lanjutannya…

Asia Europe MeetingDIE german institute of adult eduAbstract:
The quality of education depends on the quality of the teachers. This axiom is very well known among educators, including in Indonesia. A lot of teacher professional development has been delivered all across the Indonesian archipelago. Hence, the delivery of the program is more into ‘hit and run’, where teachers’ professional development is conducted but not followed by proper monitoring and evaluation. Furthermore, the training delivered was usually not preceded by appropriate professional development needs analysis. Consequently, this approach raised issues of how well the trainings answered the teachers’ needs, and how effective those trainings to the teachers in doing their day to day activities .The conditions described earlier, brought the Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI), a professional philanthropic organization that specializes in providing teachers and school leaders in Indonesia with pedagogical and school management professional development programs, into awareness of the importance of the well planned monitoring and evaluation programs to measure the effect of teacher training. This paper describes the condition of the teachers’ professional development through training programs in Indonesia and the practice by the SFTI.

For the complete text please visit: http://www.die-bonn.de/asem/asemconfpapers.pdf

This paper is presented at the  ”Teachers and Trainers in Adult Education and Lifelong Learning: Professional Development in Asia and Europe”. 29-30 June in Bergisch, Gladbach/Germany.
  

 

 

Oleh: raymondsetiawan | Mei 30, 2009

Lima Tahap Evaluasi Pelatihan

speedometer_-_Audi_TT4Bagaimana kita mengetahui ‘efektiitas’ dari pelatihan / training yang telah dilakukan?  Hal ini biasanya menjadi salah-satu pertanyaan krusial bagi para pendidik maupun para pelatih di berbagai bidang. Secara umum terdapat lima tahapan dari evaluasi suatu pelatihan.

Pertama, adalah melakukan evaluasi terhadap reaksi peserta pelatihan terhadap sesi pelatihan yang baru saja dilalui. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner guna mengetahui bagaimana pandangan / pendapat peserta mengenai topik, cara penyampaian, kompetensi fasilitator, maupun sarana-prasarana pelatihan. Evaluasi tahap pertama ini memang bersifat subjektif, namun tetap sangat bermanfaat untuk mengetahui apa yang dipersepsi oleh para peserta pelatihan. Baca Lanjutannya…

Oleh: raymondsetiawan | Mei 14, 2009

Seleksi Beasiswa Siswa-Siswi SMA

beasiswa-sampoernaSekarang ini penulis sedang berada di Malang sebagai salah-seorang panelis dalam seleksi siswa-siswi SMP untuk mendapatkan full scholarship untuk tingkat SMA. Beasiswa yang diberikan oleh Sampoerna Foundation ini tidak saja meliputi biaya sekolah melainkan juga biaya hidup siswa di asrama sekolah sampai siswa lulus sekolah menengah.

Melalui proses yang cukup panjang, para siswa diseleksi dari sekitar 2000 pelamar menjadi sekitar 300, dan kelak akan terpilih 150 siswi-siswa terbaik untuk mendapatkan beasiswa tersebut.

Selama proses wawancara, penulis menemukan banyak sekali kisah-kisah unik, gembira dan sedih dari para remaja yang menggambarkan realita hidup yang mereka alami, perceraian dal  Selain itu ditemukan pula mutiara-mutiara yang terpendam, yang kurang terasah karena keterbatasan paparan pengalaman dan akses terhadap sarana pendidikan. Banyak sekali bakat dan potensi akademik maupun non-akademik seperti misalnya di bidang seni, tari, suara, kaligrafi, dan juga ditemukan penulis-penulis cilik yang brilian dalam menuangkan ide mereka.

Hal yang sangat dirasakan oleh saya adalah bahwa penilaian dan keputusan yang saya buat, akan mempengaruhi nasib dan jalan hidup dari para remaja yang sangat potensial namun kurang dari segi finansial ini selama paling-tidak tiga tahun ke depan dan juga dapat mempengaruhi jalan hidup mereka kelak selepas SMA.

Hal ini membuat saya merenung, dan takjub. Luar biasa bakat dan potensi yang dimiliki para remaja belia ini.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori